Fahd El Fouz A Rafiq : Makna Lebih Luas Halal Bi Halal, Memperkuat Persatuan Indonesia  

Fahd El Fouz A Rafiq ungkap makna luas halal bi halal yang dapat menciptakan persatuan Indonesia!

Fahd El Fouz A Rafiq : Makna Lebih Luas Halal Bi Halal, Memperkuat Persatuan Indonesia  
Fahd El Fouz A Rafiq : Makna Lebih Luas Halal Bi Halal, Memperkuat Persatuan Indonesia  . Gambar : Istimewa

BaperaNews - Hari raya idul fitri adalah rententan akhir di bulan suci Ramadhan yang diawali dengan shalat Taraweh di malam harinya kemudian dilanjutkan berpuasa selama tiga puluh hari, waktunya dari imsak sampai adzan maghrib dilanjutkan dengan Nuzulul qur’an (17 Ramadhan), malam Lailatul Qadar (tanggal ganjil di sepuluh akhir)  yang disempurnakan Halal bi Halal di hari raya Idul Fitri (1 Syawal). 

Fahd El Fouz A Rafiq mengatakan, “Puasa itu ibadah paling terkenal, kuno dan kurikulum lama, puasa itu kurikulum kehidupan yang tidak pernah dihilangkan oleh tuhan dari Nabi adam sampai akhir zaman, puasa itu seperti ilmu berhitung yang tidak akan pernah hilang dari kurikulum dunia pendidikan”, tuturnya pada Kamis, (28/4) Pukul 12.30 WIB di Rumah Sakit Citra A Rafiq, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. 

Di era Nabi adam ada puasa (Syaum) 13,14,15 rembulan. 27,28 ,29 akhir bulan puasa ayyamussuth, kalau hari terang namanya ayyamul baith. Di zaman nabi Idris dikenal dengan puasa mutih (makanan tanpa nyawa), Nabi Daud sehari puasa sehari tidak, Nabi Musa sebelum naik bukit thursina disuruh puasa dulu, Nabi Ibrahim ketika dilemparkan ke dalam kobaran api oleh raja Namrud dalam kondisi puasa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad semuanya puasa. Puasa ini dikenal oleh semua manusia dan semua agama kenal yang namanya puasa. Inilah uniknya puasa. 

Beberapa Agama lain dunia yang menjalankan Ibadah puasa diantaranya: 

Upawasa atau puasa bagi umat Hindu di Hari Raya Nyepi dilakukan selama 24 jam. Yaitu menahan diri dengan tidak mengerjakan apapun yang menjadi pantangan di hari raya nyepi. Dalam istilah ajaran Hindu disebut juga dengan Catur Brata Penyepian. Dan dari kata Upasawa menjadi puasa yang hingga hari ini populer di Indonesia

Ummat Buddha puasanya ketika ingin  mendapatkan kesempurnaan menuju  Nirwana, itu puasa di bawah pohon body menggunakan kain selempang tanpa daleman itu waktunya tidak terbatas sampai mendapat pencerahan. Puasa umat Buddha lebih dikenal dengan uposatha yang artinya “masuk untuk berdiam di vihara. Yang dapat diartikan pelaksanaan Uposotha adalah sebagai cara untuk melakukan pengendalian diri terhadap nafsu indera, membersihkan pikiran dari banyak hal kotor sehingga diperoleh ketenangan dan kebahagiaan batin. 

Baca Juga: Fahd El Fouz A Rafiq Konsisten Tebar Kebaikan Di Seluruh Indonesia

Umat Buddha menjalankan puasa di 4 hari menjelang tanggal 1, 8, 15 dan 23 malam menurut penanggalan lunar. Biasanya terdapat empat hari Uposatha. Umat Buddha masih diperbolehkan minum tapi tidak boleh makan.  

Ummat Nasrani berpuasa pada hari jumat agung menjelang paskah. Dalam kristen juga ada puasa mutlak yaitu : puasa musa 40 hari 40 malam, puasa ester 3 hari 3 malam, puasa yesus 40 hari 40 malam. Puasa normal: Puasa Daud: puasa semalaman dan berbaringan di tanah, puasa sebagian yaitu puasa Daniel: Puasa 10 hari hanya makan sayur serta minum air putih. 

Ummat Yahudi  Puasa pada hari bessar Yom Kippur dan Tisha B’AV. Umat yahudi mengamalkan berpuasa sampai enam hari pada satu tahun. 

Ummat Konghucu puasa disebut Chai dilakukan dengan tidak makan daging. Puasa dalam ajaran Khonghuchu dilakukan menjelang sembahnyang besar  Cing Thien Kong atau Pai Thi Kong dilakukan pada hari hari tertentu dibulan imlek dengan cara tidak makan daging, minyuman keras, dan bawang putih. 

Fahd El Fouz A Rafiq menambahkan, ” Karena puasa ini syari’at kuno. Orang indonesia nenek moyangnya  hobi puasa sehingga variasi puasa itu terbanyak di Indonesia seperti puasa makan pupus daun  (ngidang). Ada puasa makan polo (ngerowot), ada puasa tidak kena matahari  (Pati Geni), ada puasa diatas pohon namanya (Ngalong), ada puasa diem saja (mbisu), ada puasa jalan saja  (ngidan)”, dan banyak lagi”. 

Bukan bangsa manusia saja yang diajarkan puasa, beberapa hewan seperti Ayam ketika ingin menetaskan telur puasa 21 hari, ulet ingin jadi kupu kupu dia puasa jadi kepompong selama 15-20 hari. Ular ingin ganti kulit puasa selama 21 hari. Seekor elang yang sudah berusia 40 tahun juga puasa untuk bertahan hidup dan memperpanjang umur. Ia terbang jauh ke hutan atau gua dan menetap disana, dengan paruh melepas bulunya, kemudian mencabut semua cakarnya, elang juga melepaskan batu untuk melepaskan paruhnya, setelah semua terlepas ia berlindung di suatu tempat dan berpuasa selama 150 hari. Setelah 150 hari tumbuhlah disemua bagian tubuh yang telah lepas tadi dan punya kesempatan untuk hidup 30 tahun lagi.     

Soal Halal bi Halal Fahd El Fouz A Rafiq menjelaskan, "Halal bi halal itu Ijtihad ulama pesantren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang patut di acungi jempol terutama ketika bangsa Indonesia terancam perpecahan dan disintegrasi antar anak bangsa sendiri. 

Fahd El Fouz A Rafiq menceritakan, "tahun 1948 Bung Karno memanggil KH. Wahab Chasbullah ke istana negara untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat, karena saat itu banyak pemberontakan dibanyak daerah. 

Lalu kiayai Wahab Chasbullah memberikan saran kepada bung karno untuk menyelenggarakan silaturahim karena sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, Bung Karno menjawab  “Silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain”, kata presiden RI 1 itu. 

Itu gampang, kata kiai wahab. Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu dosa. Dosa itu haram. Supaya tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahim nanti kita pakai istilah HALAL BI HALAL, ucap kiai wahab pada pak karno. 

Dari saran Kiai wahab itulah, kemudian Bung Karno pada hari raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke istana negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi judul HALAL BI HALAL dan akhirnya  mereka bisa duduk satu meja, dan terjadilah babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan Indonesia. Sejak saat itulah istilah Halal bi Halal gagasan kiai wahab lekat dengan masyarakat Indonesia

Kini Halal bi Halal dipraktekkan bukan hanya sekedar ajang silaturahim, tujuan utama kiai wahab adalah untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang. 

Fahd El Fouz A Rafiq Menyimpulkan bahwa, “Halal bi Halal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambung hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik serta berbuah secara berkelanjutan. Lebih dari sekedar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan diantara anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara. Maka dari itu halal bi halal bukan hanya sekedar ritual keagamaan belaka, akan tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, tradisi yang positif dan yang terpenting adalah memperkuat persatuan Indonesia di momentum hari raya Idul Fitri”, tutup Ketua Umum DPP KNPI Periode 2015 -2018. Perlu diketahui bersama bahwa Halal bi Halal hanya ada di Indonesia

Baca Juga: Bapera Aceh Tengah Dan Bener Meriah Buka Puasa Bersama Dan Santuni Anak Yatim

Penulis: ASW