OpenAI Rayu Karyawan Google Pindah Kerja, Ditawari Gaji hingga Rp 157 Miliar

OpenAI berupaya merekrut ahli dari Google dengan tawaran gaji mencengangkan dan akses eksklusif ke teknologi mutakhir.

OpenAI Rayu Karyawan Google Pindah Kerja, Ditawari Gaji hingga Rp 157 Miliar
OpenAI Rayu Karyawan Google Pindah Kerja, Ditawari Gaji hingga Rp 157 Miliar. Gambar : www.mgt.tum.de

BaperaNews - Persaingan di dunia teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. OpenAI, perusahaan yang dikenal dengan produk chatbot ChatGPT, dikabarkan tengah melakukan pendekatan persuasif kepada para karyawan Google di divisi teknologi kecerdasan buatan.

Langkah ini menunjukkan intensitas persaingan ketat antara OpenAI dan Google dalam mengembangkan inovasi di bidang AI.

Tak main-main, OpenAI disebut menawarkan gaji yang cukup fantastis sebagai daya tarik bagi karyawan Google yang bersedia beralih ke perusahaan mereka. Nilai gaji yang diusung mencapai 10 juta Dolar AS, setara dengan Rp 157 miliar, sebagaimana dilansir oleh India Today pada Selasa (14/11).

Keputusan OpenAI untuk memberikan tawaran sebesar itu tidak hanya sebatas gaji tinggi. Perusahaan ini juga memberikan paket kompensasi tambahan, termasuk akses eksklusif ke sumber daya teknologi mutakhir, seperti chip akselerator AI, yang menjadi daya tarik lebih bagi para ahli di bidang ini.

Baca Juga : Sudah Bisa Dicoba, Begini Cara Gunakan Fitur AI Google Search

Sejak awal, OpenAI telah berhasil merekrut 93 profesional AI dari perusahaan pesaing, termasuk Google dan Meta (perusahaan induk Facebook dan Instagram). Dari jumlah tersebut, 59 di antaranya merupakan mantan karyawan Google, sedangkan 34 sisanya berasal dari Meta.

Melalui upaya merekrut tenaga ahli, OpenAI berkomitmen untuk memperkuat timnya dengan mengumumkan lowongan pekerjaan, terutama untuk posisi research engineer. Gaji tahunan yang ditawarkan berkisar antara 245.000 hingga 450.000 Dolar AS, setara dengan Rp 3,8 miliar hingga Rp 7 miliar.

Head of Super Alignment OpenAI, Jan Leike, menekankan bahwa fokus timnya adalah menyelaraskan sistem AI dengan kepentingan publik, yang menjadi alasan di balik gencarnya upaya perekrutan ini.

Dengan perang tawar-menawar yang melibatkan gaji mencengangkan dan paket kompensasi eksklusif, para karyawan Google di divisi teknologi kecerdasan buatan dapat memiliki pilihan yang sulit: tetap setia pada Google atau memanfaatkan peluang di OpenAI untuk terlibat dalam pengembangan teknologi AI yang semakin mendominasi dunia digital.

Sebagai pelaku utama di industri AI, baik OpenAI maupun Google akan terus berlomba dalam menciptakan terobosan baru yang dapat mengubah paradigma kecerdasan buatan di masa depan.

Baca Juga : OpenAI Luncurkan DALL-E 3, Bisa Buat Gambar Via ChatGPT