Gaya Hidup Gen Z di China, Bangun Jam 4 Pagi dan Kerja di 4 Tempat Berbeda Akibat Krisis Ekonomi
Gen Z di China hadapi krisis ekonomi, bekerja di 4 tempat demi Rp21 juta/bulan. Tingkat pengangguran tinggi dan perlambatan ekonomi jadi tantangan utama mereka.

BaperaNews - Generasi Z (Gen Z) di China menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan, mendorong sebagian individu untuk mengambil langkah ekstrem demi kebebasan finansial.
Seorang perempuan berusia 23 tahun menjadi viral di platform Douyin setelah berbagi kisah tentang perjuangannya bekerja di empat tempat berbeda setiap hari, menghasilkan penghasilan hingga Rp21 juta per bulan.
Perempuan tersebut memulai hari pukul 4 pagi, bersiap untuk pekerjaan pertamanya sebagai staf dapur di sebuah restoran yang dimulai pukul 5.30 waktu setempat.
Selama waktu istirahatnya, ia mengunjungi rumah klien untuk merawat kucing, termasuk memberi makan dan membersihkan kotak kotoran hewan peliharaan tersebut.
Setelah menyelesaikan shift restoran pada pukul 17.30, ia melanjutkan ke toko makanan penutup, bekerja hingga pukul 23.00 malam. Seusai pekerjaan keduanya, ia menghabiskan waktu di rumah mengedit video untuk akun media sosialnya hingga tengah malam.
Meski memiliki jadwal padat, perempuan itu menegaskan bahwa ia tidak bekerja sekeras itu setiap hari, memilih untuk beristirahat jika merasa kurang sehat atau lelah.
"Jika suatu hari saya merasa tidak enak badan atau tidak ingin bekerja, saya akan berhenti. Ini tidak se-ekstrem yang dipikirkan orang-orang," jelasnya.
Perjuangan ini mencerminkan kesulitan ekonomi yang dihadapi Gen Z di China. Generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini tumbuh di tengah perlambatan ekonomi, berbeda dengan pertumbuhan pesat yang dialami generasi sebelumnya.
Pada 2023, gaji pekerja muda lulusan perguruan tinggi rata-rata hanya mencapai 1.160 dolar AS (sekitar Rp18 juta) per bulan, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga : Diprediksi Buat Gen Z-Milenial Miskin, Apa itu Tren Doom Spending?
Selain itu, penciptaan lapangan kerja tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi, menyebabkan tingkat pengangguran di kalangan usia 16-24 tahun mencapai rekor tertinggi, yakni 21 persen pada Juli 2023.
Melihat kondisi ini, pemerintah China berupaya meningkatkan kesempatan kerja bagi kaum muda.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberikan subsidi kepada perusahaan yang menyediakan program magang selama satu tahun untuk lulusan universitas.
Namun, dengan sekitar 11,6 juta lulusan baru pada 2023, tantangan ini tetap signifikan.
Seorang peneliti dari Paulson Institute, Houze Song, menilai bahwa faktor seperti krisis properti dan utang pemerintah daerah menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi China.
Ia memprediksi bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi China pada 2024 akan lebih rendah daripada 2023, yang berpotensi memperburuk pengangguran di kalangan Gen Z.
"Saya yakin bahwa tingkat pengangguran kaum muda kemungkinan besar akan terus terakumulasi," ujar Song.
Gen Z di China tidak hanya menghadapi tekanan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak ideal.
Beberapa memilih bekerja keras, seperti perempuan viral tadi, demi mencapai kestabilan finansial. Namun, gaya hidup semacam ini menuai kritik karena dianggap melelahkan dan tidak sehat.
Di sisi lain, membangun usaha kecil dan menengah juga bukan solusi yang mudah. Pandemi COVID-19 memperburuk kondisi bagi pengusaha kecil, yang hingga kini masih berjuang bangkit dari kerugian.
Baca Juga : Riset Ungkap Gen Z Tak Lagi Gunakan Google untuk Cari Informasi, Lalu Pake Apa?