Fahd A Rafiq: Dalam Berbisnis Mari Belajar Dari Apple dan Tumbangnya BlackBerry Hingga Nokia

Ketua Umum DPP Bapera, Fahd A Rafiq sebut Apple diprediksi akan menjadi the next Nokia yang akan menjadi musnah seperti Blackberry dan Nokia

Fahd A Rafiq: Dalam Berbisnis Mari Belajar Dari Apple dan Tumbangnya BlackBerry Hingga Nokia
Fahd A Rafiq menjelaskan dalam berbisnis mari belajar dari Apple dan tumbangnya BlackBerry hingga Nokia. Gambar : unsplash.com/Dok. Manny Moreno

BaperaNews - Dari sekian banyak pengamat bisnis mengatakan bahwa Apple akan mengikuti jejak BlackBerry dan Nokia, Kenapa demikian? Karena Apple tidak mengambil wilayah baru, inovasi baru, tidak menambah pelanggan baru.

Semenjak wafatnya Steve Jobs pendiri Apple dengan Motto yang terkenal “Think Different”. Apple tidak menjalankannya cukup baik.

Fahd A Rafiq menyebutkan, “Apple diprediksi akan menjadi the next Nokia yang akan menjadi musnah. Dari sini kita membicarakan soal mikro ekonomi, seperti perusahaan dan bisnis” ujarnya.

“APBN sebuah negara itu di ibaratkan sales atau omset sebuah perusahaan, jadi kalau APBN Indonesia sekitar 2000 triliun atau 30 triliun dollar, maka omzet perusahaan yang nilainya 130 Billion dollar per tahun di dunia ini ada lebih dari 350 perusahaan. Kalo PDB Indonesia 1.100 Dollar atau sekitar 16.000 triliun, maka Valuasi perusahaan yang nilainya diatas 1 triliun dolar ada lebih 20 an perusahaan di dunia ini’ lanjutnya.

Mengambil contoh dari Black Rock perusahan yang memiliki kapitalisasi sebesar 9 Triliun Dollar atau 9 kali PDB Indonesia. Dari sini kita semua harus membicarakan Negara Indonesia sesekali dengan perusahaan yang nilainya lebih besar dari Negara Indonesia.

Diketahui, saat ini GDP (Gross Domestic Product) per capita Indonesia sekitar 4250 dollar artinya rata-rata penduduk Indonesia pendapatannya 1 tahun adalah 4250 X 14.500 rupiah atau sekitar 62 jutaan per orang.

Penentu lain ialah Indeks Gini Ratio dimana semakin besar angkanya maka akan semakin jauh jarak orang kaya dengan orang miskin. 

Omzet perusahaan sama dengan APBN sebuah Negara, kapitalisasi pasar perusahaan sama dengan PDB sebuah negara.

Balik ke Nokia, Nokia pada waktu itu dibunuh oleh smartphone, padahal kita tahu bahwa Nokia adalah perusahaan yang sangat besar dan menguntungkan di zamannya, namun seketika dibunuh oleh hitungan bulan. 

Karena Steve Jobs meluncurkan Apple tahun 2007 yang tidak ada keyboard nya semuanya di layar sentuh, semuanya dikendalikan di layar sentuh. Gadget itu sangat memukau seluruh dunia. Hal ini lah yang beberapa tahun kedepannya membunuh Nokia dalam sekejap. 

Pada zaman sekarang apapun Smartphone yang Anda punyai dioperasikan oleh Touchscreen yang Steve Jobs ciptakan. Sayang sekali bahwa Nokia kehilangan kesempatan oleh gebrakan Smartphone

Memang pada tahun 2007 Nokia masih merajai seluruh dunia, bahkan di tahun 2013 Microsoft membeli Nokia senilai 7,2 billion dollar dimana setahun kemudian, Microsoft menjual Nokia kembali ke Foxconn hanya 350 juta dollar saja. Dan niat Microsoft mengambil nama dan jaringan Nokia itu tidak berjalan.

Di sisi lain, semenjak Steve Jobs kembali ke Apple. Apple menjadi perusahaan yang paling kuat dari tahun 1996 hingga 2016. 

Apple terus meningkat dari perusahaan yang nilainya 30 billion dollar menjadi 250 billion dollar di tahun 2016.

Dari banyaknya cerita jatuhnya Nokia, Apple adalah cerita di banyak sekolah bisnis yang membuat fenomenal. Cerita itu membuat banyak entrepreneur bermimpi ingin menjadi Apple, salah satu perusahaan yang saat ini nilainya 2000 billion dollar. Dan ini nilainya lebih besar dari PDB negara Indonesia, Italia, Brazil, Canada, Rusia, Korea Selatan, Australia, Spanyol dan banyak negara lainnya bahkan, nilai Apple seakan lebih tinggi dari nilai beberapa negara di dunia ini. 

Bahkan tidak tanggung-tanggung free cashnya Apple mendapatkan 138 billion dollar, itu lebih banyak dari cadangan devisa beberapa negara di Eropa, Afrika, Amerika latin, Asia.

Fahd A Rafiq menyatakan, “Jangan-jangan Apple melakukan kesalahan apa yang Nokia lakukan, kalau melihat apa yang dilakukan 3- 4 tahun ini. Apa yang Apple lakukan. Mengapa akan meniru langkah Nokia yang runtuh ? 

Apple saat ini bukan dalam keadaan krisis hanya saja kita melihat apa yang terjadi efek pandemi dimana supply bahan dasar Apple banyak datang dari Tiongkok yang sudah beberapa tahun ini tersendat. Bukan pandemi Covid-19 yang membuat apple turun. 

Sebelum pandemi Covid-19 penjualan Apple sudah turun dalam 5 tahun walaupun tidak signifikan. Tetap merupakan yang terburuk dalam 16 tahun terakhir di dalam prestasi Apple. 

Tim cook atau CEO Apple menyatakan penjualan Apple menurun yang terbesar di Tiongkok dan ini berimbas ke seluruh penjualan dunia.

Analis Goldman Sach mengatakan sebuah cerita panjang yang bisa membandingkan Apple dengan Nokia. 

Dulu Nokia bergantung pada pelanggannya untuk mengupgrade teleponnya alias setiap telpon Nokia lahir baru maka ada fitur baru serta upgrade kapasitas dan modelnya yang kemudian pelanggan tidak terlalu aktif membeli lagi karena tidak terlalu membutuhkan fitur baru atau kapasitas baru. 

Jadi yang tadinya setiap 6 bulan orang mengganti Nokia kini menjadi 2 tahun. Orang-orang semakin kesini semakin lama mengganti gadgetnya. Pelanggan memilih memperbaiki daripada mengganti. 

Hal ini juga terjadi pada Apple, mengapa penjualan Apple yang baru tidak secerah dahulu. Dimana puncaknya adalah di iPhone X di tahun 2018. Seakan Apple itu mengandalkan Glory from the past akan terus membawanya berjaya. 

Fahd A Rafiq menjelaskan bahwa, “Sudah hampir 10 tahun ini Apple kehilangan Inovasinya, jadi daripada fokus mencari lahan baru, Apple lebih memilih mempertahankan wilayahnya. Mencari lahan baru dan mempertahankan wilayah” ujarnya.

“Steve job punya legesi menambah Inovasi dan menambah lahan baru, tapi manajemen sekarang tidak. Untuk berinovasi mereka wajib menganggarkan dana dan tenaga R&D (Research and Development).kata kunci berikutnya adalah Inovasi,” lanjut Fahd A Rafiq.

Apple pertahunnya hanya menganggarkan 8% biaya RND, dibandingkan dengan Microsoft yang 13 persen. Apple ketinggalan jauh dalam 10 tahun terakhir karena hanya fokus di jualan, lalu dalam mencari lahan baru bukan selalu pasar yang dilebarkan, salah satu yang terbaik adalah mengakuisisi perusahaan baru untuk menciptakan produk baru segar atau supplier diakuisisi mitra mitra dagang juga untuk merger. 

Apple juga  lambat dalam hal tersebut. Buktinya Apple hanya mengeluarkan 2% dari free cash flow nya sejak 2012 di dalam melakukan merger akuisisi ini. 

Terakhir Apple mengandalkan Brand nama mereka, kesannya kalau membeli produk Apple anda berada di level sosialita atas namun ternyata generasi Millenial dan Zillenial tidak melihat itu di Apple. 

Fahd A Rafiq juga mengatakan sisi lain Buzz (Pembicaraan di sosial) “Dibanding terakhir yaitu Apple 5 hingga saat ini, suara Noise di Google turun jauh tinggal separuhnya dibanding 10 tahun lalu. Jadi, jika Apple tidak mengambil wilayah baru, inovasi baru, tidak menambah pelanggan baru. Apple akan mengikuti sejarah Nokia dan BlackBerry,” ujarnya.

“Karena Motto Apple “Think Different”agaknya tidaknya di jalankan. Semoga ini bisa menjadi cermin kita semua untuk berbisnis dan bernegara” tutup Fahd A Rafiq.

Penulis : Ahmad Shofyan (Bapera Pusat)