7 Sisi Gelap Kerja di Jepang, dari Eksploitasi hingga Kematian Akibat Kerja Berlebihan
Dunia kerja di Jepang menyimpan sisi gelap, termasuk fenomena karoushi (kematian akibat kerja berlebihan) dan eksploitasi oleh black company. Simak fakta lengkapnya di sini.

BaperaNews - Dikenal sebagai negara yang disiplin dan pekerja keras, Jepang sering menjadi inspirasi dalam etos kerja. Namun, di balik reputasi tersebut, dunia kerja di Jepang menyimpan sisi gelap yang jarang terungkap.
Fenomena ini dikenal dengan istilah karoushi (kematian akibat kerja berlebihan) dan burakku kigyou atau "black company" yang mengeksploitasi pekerja hingga batas ekstrem.
Artikel ini akan mengupas sisi gelap kerja di Jepang yang membuat banyak orang berpikir dua kali untuk bekerja di sana.
Mengapa sisi gelap ini bisa begitu mengakar? Budaya kerja Jepang memiliki standar yang sangat ketat, mulai dari waktu kerja yang panjang hingga ekspektasi untuk selalu memberikan yang terbaik, apa pun risikonya.
Banyak pekerja di Jepang harus bertahan dalam kondisi tak manusiawi, seperti tidur hanya tiga jam sehari atau lembur tanpa kompensasi memadai.
Artikel ini menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi, dampaknya bagi pekerja, dan alasan budaya ini sulit diubah meski ada usaha pemerintah.
1. Karoushi: Kematian Akibat Kerja Berlebihan
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Istilah karoushi menggambarkan kenyataan tragis yang dialami sebagian pekerja Jepang, yaitu kematian akibat kelelahan bekerja. Berasal dari kata "karou" (kelebihan kerja) dan "shi" (kematian), istilah ini populer setelah berbagai kasus tragis mencuat.
Salah satu contoh adalah Takahashi Matsuri, pekerja di perusahaan periklanan Dentsu yang bunuh diri pada 2015 setelah mengalami tekanan luar biasa dan jam lembur hingga lebih dari 100 jam sebulan.
Kasus Matsuri bukan satu-satunya. Pada tahun 2016–2019, tercatat 925 kasus kematian akibat kelelahan kerja. Bagi banyak pekerja, beban kerja berlebihan ini berasal dari tuntutan perusahaan yang memaksa mereka untuk terus lembur.
Walaupun Jepang memiliki aturan standar 40 jam kerja per minggu, banyak perusahaan yang masih melebihi batas tersebut. Meski pemerintah telah mengeluarkan peraturan untuk mengurangi lembur, kenyataannya belum banyak berubah.
2. Burakku Kigyou: Black Company yang Mengeksploitasi Pekerja
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Di Jepang, istilah burakku kigyou merujuk pada perusahaan yang mengeksploitasi pekerjanya secara tidak wajar. Perusahaan ini sering kali memaksa karyawan untuk lembur tanpa upah atau bahkan melakukan pelecehan verbal dan fisik.
Beberapa perusahaan besar seperti Watami dan Mitsubishi Electric pernah menjadi sorotan karena perlakuan kejam terhadap karyawan mereka, yang akhirnya diakui sebagai kecelakaan kerja.
Biasanya, burakku kigyou menargetkan karyawan baru dan kontrak yang status pekerjaannya belum pasti. Banyak dari mereka yang rela bekerja ekstra demi mempertahankan posisi mereka.
Pekerja paruh waktu dan magang pun sering menjadi korban eksploitasi karena posisi mereka yang rentan dan minim perlindungan. Burakku kigyou masih menjadi masalah besar di Jepang, meskipun sering menuai kecaman.
3. Jam Kerja yang Sangat Panjang
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Jam kerja yang panjang sudah menjadi bagian dari budaya kerja Jepang. Standar kerja 40 jam per minggu kerap terlampaui hingga ratusan jam per bulan, terutama di perusahaan besar.
Lembur lebih dari empat jam dalam sehari hingga larut malam adalah hal biasa bagi banyak pekerja Jepang, yang mengakibatkan minimnya waktu istirahat.
Tak hanya fisik yang terkuras, tekanan untuk selalu produktif juga membebani mental pekerja.
Di negara lain, keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi lebih diutamakan, tetapi di Jepang banyak pekerja yang merasa tidak punya pilihan selain terus bekerja keras, meski itu harus mengorbankan kesehatan. Ini adalah sisi gelap kerja di Jepang yang sulit dihindari.
4. Budaya Bullying di Tempat Kerja
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Bullying di tempat kerja, atau yang dikenal dengan istilah ijime, adalah masalah serius di Jepang. Senioritas di tempat kerja membuat para senpai (senior) sering memperlakukan junior dengan kasar.
Bentuk bullying ini bisa berupa teguran keras, ucapan kasar, atau pengucilan. Tak jarang, pekerja yang menjadi korban bullying mengalami stres dan depresi hingga akhirnya mengundurkan diri.
Kasus bullying di Jepang sempat mencuat ketika beberapa karyawan Mitsubishi Electric mengalami gangguan mental akibat tekanan dan perilaku kasar dari atasan mereka.
Budaya bullying ini memperparah kondisi kerja di Jepang, di mana hierarki dan kepatuhan pada atasan menjadi nilai utama yang dijunjung tinggi.
5. Eksploitasi Karyawan Kontrak dan Paruh Waktu
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Karyawan kontrak dan paruh waktu sering kali menjadi korban eksploitasi di perusahaan Jepang. Berbeda dengan karyawan tetap, posisi mereka yang rentan membuat perusahaan bebas memberi tugas tambahan tanpa kompensasi memadai.
Banyak karyawan kontrak yang merasa terpaksa memenuhi tugas demi mempertahankan posisi kerja mereka.
Pekerja paruh waktu, terutama mahasiswa, juga mengalami situasi yang sama. Mereka biasanya bekerja di sektor pelayanan seperti restoran atau toko, di mana jam kerja mereka tidak tetap dan sering kali diminta lembur tanpa upah.
Minimnya perlindungan bagi karyawan paruh waktu menunjukkan bahwa eksploitasi di dunia kerja Jepang tidak hanya dirasakan oleh karyawan tetap.
6. Tantangan dalam Program Magang (Kenshusei)
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Program magang atau kenshusei di Jepang menjadi pilihan bagi mahasiswa atau profesional yang ingin merasakan pengalaman kerja di sana. Namun, di balik kesempatan ini, terdapat berbagai tantangan, mulai dari biaya besar hingga tekanan kerja tinggi.
Peserta harus mengikuti pelatihan bahasa Jepang dengan biaya besar, dan proses hingga akhirnya bisa bekerja cukup memakan waktu.
Beberapa peserta magang mengeluhkan perlakuan tidak manusiawi, seperti pelecehan fisik atau verbal. Dalam beberapa kasus ekstrem, ada laporan pelecehan seksual yang dialami peserta magang.
Hal ini menunjukkan bahwa bekerja sebagai magang di Jepang mungkin tidak semudah yang dibayangkan.
7. Pelanggaran Hak dan Kontrak Kerja
Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai
Pelanggaran hak dan kontrak kerja juga menjadi sisi gelap dalam dunia kerja Jepang. Banyak pekerja yang mengeluhkan pemotongan gaji tanpa alasan jelas, termasuk potongan asuransi atau pajak yang tidak wajar.
Banyak karyawan yang enggan melaporkan pelanggaran ini karena takut kehilangan pekerjaan, meskipun tindakan tersebut jelas melanggar hukum ketenagakerjaan Jepang.
Pelanggaran kontrak juga dialami oleh pekerja ilegal, yang sering kali berakhir bekerja dalam kondisi buruk tanpa perlindungan hukum atau asuransi.
Banyak dari mereka yang hidup sebagai pekerja ilegal dan harus bersembunyi dari aparat. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak pekerja yang akhirnya terjebak dalam situasi kerja berbahaya dan tidak manusiawi.
Kesimpulan
Sisi gelap kerja di Jepang mencerminkan kerasnya budaya kerja yang telah mendarah daging di negara tersebut. Meski terkenal dengan kemajuan teknologi dan disiplin tinggi, dunia kerja di Jepang masih memiliki banyak tantangan yang membuat pekerja rentan mengalami berbagai tekanan.
Dari karoushi hingga bullying, serta eksploitasi terhadap pekerja kontrak dan paruh waktu, realitas ini menunjukkan bahwa masih banyak yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja di Jepang.
Memahami risiko ini adalah langkah penting bagi siapa pun yang berencana bekerja di Jepang. Memastikan tempat kerja menghargai hak-hak karyawan dan memberikan perlindungan yang cukup adalah pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan besar ini.
Sisi gelap kerja di Jepang harus menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan fisik pekerja adalah aspek penting yang tidak boleh diabaikan.