Gegara Penyakit Langka, Ratusan Orang di Peru Lumpuh

Ratusan orang di Peru lumpuh gegara terkena penyakit langka. Simak selengkapnya!

Gegara Penyakit Langka, Ratusan Orang di Peru Lumpuh
Gegara Penyakit Langka Ratusan Orang di Peru Lumpuh. Gambar : Kreator Baperanews Via Canva.com

BaperaNews - Muncul kasus penyakit langka di Peru yang menyerang dan melumpuhkan ratusan warga Peru. Dokter sempat kebingungan karena kasus terjadi begitu cepat dan belum diketahui sebabnya.

Setelah diselidiki, barulah diketahui penyakit yang menyerang ratusan warga Peru ialah gelombang Sindrom Guillain Barre (GBS) yang telah menyebabkan 231 orang Peru lumpuh dan 4 diantaranya tewas sejak GBS menyerang pada Januari 2023.

Kasus penyakit langka di Peru bernama GBS ini ialah sebuah kondisi ketika sel kekebalan tubuh yang sehat menyerang sel saraf yang sehat di tubuhnya sendiri yang terjadi usai ada infeksi atau terpapar bakteri ini membuat syaraf di tubuh pasien lemah hingga terjadi kelumpuhan. Gejala biasa dimulai dari kaki dan tangan sebelum menyebar ke lengan dan bagian tubuh lainnya.

Korban tewas akibat GBS mengalami gejala terinfeksi, kesemutan, mati rasa, lemah otot, nyeri, dan tidak bisa mengatur keseimbangan serta koordinasi tubuhnya. Para dokter dan ilmuwan di Peru masih berusaha temukan akar dari penyakit GBS.

Sampel penyakit yang dianalisis menyebut penyakit GBS mungkin berasal dari bakteri Campylobacter Jejuni yang ditemukan di air atau makanan kotor.

Baca Juga : Harvard University Digugat Soal Dugaan Kasus Diskriminasi Penerimaan Maba S1

Bakteri yang sama juga menyebabkan wabah GBS beberapa tahun lalu. GBS bisa menyebabkan kasus jangka panjang meski ada juga yang bisa sembuh total.

Peru saat ini menetapkan status darurat kesehatan nasional akibat kasus penyakit langka di Peru bernama GBS. WHO belum mengeluarkan pembatasan perjalanan apapun atas wabah ini.

“Sindrom GBS berpotensi mengancam jiwa. Pasien harus dirawat di rumah sakit dan dipantau dengan ketat. Perawatan suportif meliputi memantau detak jantung, napas, dan tekanan darah. Jika terjadi kasus yang menyulitkan pasien bernapas, biasanya pasien diberi ventilator” kata WHO.

“Mengingat adanya resiko autoimun dari penyakit ini. Fase akut bisa diobati dengan imunoterapi seperti tukar plasma untuk hilangkan antibodi di darah atau immunoglobulin intravena. Ini yang paling bermanfaat dalam 7-14 hari setelah gejala muncul. Pasien juga harus diberi rehabilitas untuk perkuat otot dan memulihkan gerakannya” pungkas WHO.

Kasus tertinggi GBS di Peru berada di ibu kota Lima. Rata-rata pasien berumur 41 tahun. Para ahli dan dokter meminta semua warga Peru menjaga kebersihan makanan, minuman, dan tangan mereka untuk mencegah penyakit langka GBS ini.

Baca Juga : 50 Paus Pilot Mati Terdampar di Laut Australia