5 Sisi Gelap Penjara Perempuan, Banyak Bullying!

Kehidupan di penjara perempuan penuh dengan tantangan berat, mulai dari bullying hingga minimnya akses kesehatan.

5 Sisi Gelap Penjara Perempuan, Banyak Bullying!
5 Sisi Gelap Penjara Perempuan, Banyak Bullying!. Gambar : BaperaNews/Achmad Rifai

BaperaNews - Penjara adalah tempat penuh tantangan yang jarang dibayangkan, terutama bagi perempuan yang dipenjara. Di balik dinding penjara, ada sisi gelap penjara perempuan yang seringkali tidak diketahui masyarakat luas.

Bukan hanya soal kehilangan kebebasan, para narapidana perempuan dihadapkan pada lingkungan yang keras, minim perlindungan, dan tidak jarang penuh dengan kekerasan.

Banyak dari mereka menjalani hukuman dalam kondisi yang jauh dari standar manusiawi, dengan akses kesehatan yang terbatas, fasilitas kebersihan yang minim, dan ruang yang terlalu padat.

Mengapa situasi di penjara perempuan begitu berat, dan apa saja kenyataan yang mereka hadapi?

Artikel ini akan mengungkap berbagai sisi gelap kehidupan di dalam penjara perempuan, mulai dari kisah nyata mantan narapidana, kondisi penjara yang penuh, hingga fakta-fakta mengejutkan lainnya. 

Dari bullying hingga kurangnya fasilitas, kita akan melihat bagaimana para narapidana perempuan menghadapi tekanan fisik dan mental yang luar biasa di balik jeruji besi.

1. Kisah Nyata Seorang Mantan Narapidana

Kisah Nyata Seorang Mantan NarapidanaGambar : BaperaNews/Achmad Rifai

Kisah mantan narapidana sering kali mengungkap kehidupan penjara yang jauh dari bayangan kita. Misalnya, seorang perempuan bernama Arsita berbagi pengalamannya ketika menjalani hukuman di balik jeruji besi.

Sejak hari pertama, ia dihadapkan pada bullying dan intimidasi, baik dari narapidana lain maupun petugas penjara. Pertanyaan-pertanyaan mengintimidasi dan bahkan tindakan kekerasan fisik dari sesama napi menjadi hal yang harus ia hadapi setiap hari.

Arsita juga menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dalam situasi penjara yang keras, ia harus bergantung pada pacarnya yang rajin menjenguknya untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan obat-obatan.

Bahkan, untuk kebutuhan mendesak seperti komunikasi dengan dunia luar, Arsita terpaksa menggunakan cara ilegal demi bertahan hidup. Kisah nyata seperti ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan perempuan yang menjalani hukuman penjara.

2. Budaya Kekerasan dan Perploncoan di Penjara Perempuan

Budaya Kekerasan dan Perploncoan di Penjara PerempuanGambar : BaperaNews/Achmad Rifai

Masuk ke penjara bukan hanya soal kehilangan kebebasan, tapi juga harus bertahan di tengah budaya kekerasan yang merajalela. Di dalam penjara, ada budaya "perploncoan" yang sering kali dialami oleh narapidana baru, yang menjadi sasaran kekerasan dari narapidana lain.

Narapidana baru dihadapkan pada pertanyaan intimidatif dan sering mengalami kekerasan fisik, seperti pemukulan jika dianggap melakukan kesalahan.

Petugas penjara yang seharusnya melindungi para napi justru sering kali menjadi pelaku intimidasi.

Mereka terkadang menunggu momen kesalahan kecil untuk memberikan hukuman, bahkan memasukkan napi ke dalam ruangan kecil dan pengap sebagai bentuk "hukuman." Situasi ini membuat kehidupan di penjara semakin penuh tekanan dan jauh dari rasa aman yang seharusnya dijaga.

3. Overcrowding dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Overcrowding dan Dampaknya pada Kesehatan MentalGambar : BaperaNews/Achmad Rifai

Salah satu masalah besar yang dihadapi oleh penjara perempuan adalah kondisi yang terlalu penuh atau overcrowding. Misalnya, Lapas Kelas II Pondok Bambu di Jakarta Timur dirancang untuk menampung sekitar 619 orang, namun kenyataannya menampung lebih dari 1.000 narapidana.

Kondisi penjara yang penuh sesak ini menyebabkan ruang gerak menjadi sangat terbatas dan berdampak langsung pada kesehatan fisik maupun mental para narapidana.

Overcrowding tidak hanya menciptakan ketidaknyamanan fisik tetapi juga memperburuk kondisi mental para narapidana. Di tengah ruang yang terbatas, konflik antar-napi lebih mudah terjadi dan risiko penyebaran penyakit meningkat.

Pada akhirnya, banyak narapidana perempuan yang mengalami gangguan mental akibat tekanan hidup yang terus bertambah tanpa adanya dukungan psikologis yang memadai.

4. Kesempatan Rehabilitasi yang Terbatas untuk Narapidana Perempuan

Kesempatan Rehabilitasi yang Terbatas untuk Narapidana PerempuanGambar : BaperaNews/Achmad Rifai

Salah satu tujuan utama dari sistem penjara adalah rehabilitasi. Sayangnya, narapidana perempuan sering kali tidak memiliki kesempatan yang sama dalam program rehabilitasi dibandingkan dengan narapidana laki-laki.

Di penjara, mereka jarang memiliki akses ke program pendidikan atau rehabilitasi narkoba, meskipun sebagian besar dari mereka masuk penjara karena pelanggaran terkait narkoba.

Keterbatasan dalam program rehabilitasi ini justru meningkatkan risiko mereka untuk kembali melakukan pelanggaran hukum setelah keluar dari penjara.

Minimnya dukungan rehabilitasi di penjara perempuan menjadi masalah besar, mengingat banyak dari mereka menjalani hukuman singkat dan membutuhkan bekal untuk memulai hidup baru yang lebih baik setelah masa tahanan.

5. Hak Asasi yang Tidak Dipenuhi: Kebersihan dan Kebutuhan Kesehatan

 Hak Asasi yang Tidak Dipenuhi: Kebersihan dan Kebutuhan KesehatanGambar : BaperaNews/Achmad Rifai

Kehidupan penjara perempuan juga diwarnai dengan minimnya pemenuhan hak asasi manusia, terutama terkait kebutuhan dasar dan kesehatan.

Misalnya, akses ke pembalut dan produk kesehatan lainnya sering kali dibatasi, dan para narapidana harus membeli produk tersebut dengan harga mahal di kantin penjara. Hal ini menjadi tantangan besar bagi mereka yang tidak memiliki dukungan keuangan dari luar.

Selain itu, perawatan kesehatan yang memadai untuk para narapidana perempuan masih sangat terbatas. Tidak semua penjara menyediakan layanan kesehatan yang layak, apalagi untuk kebutuhan spesifik perempuan, seperti layanan ginekologi atau perawatan kehamilan.

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan harus menjalani proses persalinan dalam kondisi yang tidak manusiawi di dalam penjara.

Kesimpulan

Dari kisah nyata dan kondisi yang telah diuraikan, jelas bahwa kehidupan di penjara perempuan penuh dengan tantangan yang jarang diketahui publik.

Sisi gelap penjara perempuan ini menggambarkan lingkungan yang sangat keras, dengan minimnya perlindungan hukum serta akses ke rehabilitasi atau kesehatan yang memadai. Idealnya, penjara adalah tempat untuk memperbaiki diri, tetapi kenyataannya sering kali menjadi ruang penuh penderitaan.

Perlindungan hak asasi narapidana perempuan harus ditegakkan agar mereka dapat menjalani hukuman dengan martabat. Pemerintah dan pihak berwenang perlu mengambil langkah serius untuk memastikan bahwa narapidana perempuan mendapat hak atas kesehatan, kebersihan, dan rehabilitasi.

Hanya dengan demikian, sistem penjara dapat menjadi tempat yang benar-benar mempersiapkan mereka kembali ke masyarakat.